Kamis, 05 April 2012

Balada Sawah


Indonesia, negara yang sangat saya cinta, memang negara "high context culture", sangat menjunjung tinggi kesopanan, imbas pengamalan sila ke 2 pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Mereka senantiasa mencoba untuk menjaga perasaan satu sama lain. Sangat baik memang, namun disatu sisi saya seringkali miris melihatnya, karena tabiat seperti ini membuat seluruh kata - kata yang kita luncurkan keluar dari mulut kita, tanpa kita sadari penuh dengan HIPERBOLA semata.

Salah satu contoh Hiperbola, adalah salah satu quotes dari guru saya, terutama guru IPS, mulai dari sekolah dasar, hingga dosen saya dikampus, selalu mengatakan kalo tanah jawa, tempat saya berpijak sekarang ketika menulis tulisan ini, adalah salah satu tanah tersempit di negara yang sudah 66 tahun merdeka, namun belum memerdekakan rakyat sepenuhnya, merupakan tempat paling padat dihuni oleh manusia.

Sesak, mungkin adalah satu kata yang pas untuk menggambarkan Pulau Jawa, kalo kita memikirkan apa kata guru - guru saya tadi, padahal tidak seluruhnya benar lho. Saya yang notabene sudah 21 tahun hidup di pulau jawa, tidak pernah merasakan kalo pulau jawa adalah pulau yang padat, sampai - sampai tidak ada lahan hijau didalamnya, statement ini salah besar.

Pulau Jawa memang mempunyai Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Jogjakata, Malang dan kota - kota lain yang terlihat lebih "terpandang" dan seolah - olah memiliki Pulau Jawa ini. Kota - kota yang secara tidak langsung karena kebobrokan tata kotanya-lah yang membuat statement "Tanah Jawa adalah tanah yang sempit" menyeruak kemana- mana. Satu yang terlupa, Pulau Jawa, masih punya Magelang, kota kecil yang saya bisa bilang sedikit mengademkan kota - kota yang identik dengan "panas-nya".

Sama - sama berada di Pulau Jawa namun dengan kekhasan "trully jawa" yang tidak kalah dengan Jogjakarta dan Solo, makanan khas yang tidak kalah sedap dari bakso bromo malang atau batagor bandung, sepak bola yang greget-nya tidak kalah dari Arema Malang, anak- anak muda kreatif yang talentednya tidak kalah bersinar dari anak muda Surabaya dan Jakarta, namun Magelang bagi saya adalah Istimewa, atmosfirnya, orang - orangnya dan satu yang paling saya suka, Sawahnya !!! Ya.. sawahnya, tempat nasi yang kita makan makan 3 kali sehari bahkan lebih setiap harinya diolah dengan penuh rasa syukur dan cinta, sungguh berbeda daripada sawah - sawah di kota - kota lain di pulau jawa ini.

Perlu saya ceritakan kalo saya termasuk tipe orang yang paling tidak suka curhat kepada sesama manusia ketika mempunyai sebuah masalah. Dalam benak saya, masalah yang datang dari tuhan sebenarnya sudah sepaket dengan solusinya. Tidak ada masalah tanpa solusi , sehingga dapat saya simpulkan kalau sebenarnya ketika bermasalah, tanpa perlu kita bergalau ria, mengumbar - umbar masalah ke orang lain, kita sendiri sebenarnya sudah bisa menyelesaikannya.

Beruntunglah 21 tahun ini saya tinggal di Kota Magelang, meskipun kota kecil namun memberikan ruang yang luas untuk melakukan hal apa saja tanpa kesulitan yang berarti, termasuk memberikan tempat untuk saya merenung, mencoba mencari solusi dari setiap masalah yang datang, tempat itulah yang bernama sawah.

Efek dari globalisasi, kadang membuat kita menjadi individual, dan tidak peka terhadap sekeliling, dan sering menganggap remeh hal - hal yang penting. Sebagai contohnya ketika saya menayakan apa fungsi sawah ke beberapa sahabat, banyak variasi jawaban. Ada yang bilang tempat menanam padi, tempat nyari belut , tempat maen jelangkung, tempat paling asyik buat pacaran ( hari gini pacaran di sawah....?? ), sampai tempat paling pas maen layang - layang. Semua jawaban benar, tapi apakah hanya itu saja fungsi dari sawah, tentu tidak.

Setiap harinya, 3 jam aktifitas saya kalau di kalkulasi adalah mobiling, entah kenapa saya selalu memilih melewati jalan dipinggir sawah. Rumah saya di daerah Gebalan Kota Magelang, Kampus saya di Daerah Tuguran Magelang, sehingga jalan yang saya lewati hampir setiap harinya adalah Gebalan Timur, dengan pemandangan sawah dengan latar Gunung Sumbing yang berdiri yang elok namun terkesan congkak tidak mau membalas senyum yang saya lontarkan setiap harinya. Kemudian daerah Cacaban, Boton, Potrobangsan memang menyuguhkan pemandangan perumahan ruwet, namun sedikit terhibur ketika saya melewati daerah dumpoh barat laut, tepatnya di belakang Fisipol UTM.. lagi - lagi sawah dengan pemandangan gunung sumbing menyapa saya lagi.

Mungkin terdengar katrok, hari gini, di era gahooll ghilak.. saya masih memuja sawah. Terserah pemikiran orang, sawah bagi saya tidak hanya tempat menanam padi, tempat nyari belut , tempat maen jelangkung, atau tempat paling asyik buat pacaran, namun sawah menurut saya menyuguhkan sebuah harmoni dari ketenangan serta "trully-nya magelang". Terkadang ketika masalah datang bertubi - tubi, dan saya tidak tau harus bagaimana yang saya lakukan, saya akan menuju ke sawah terdekat. Hanya bermodal duduk, mendengarkan orkestra sawah kota saya yang berbeda dari kota - kota yang lain, saya bisa sedikit tenang dan clue dari penyelesaian masalah mulai tampak sedikit demi sedikit.

Hembusan angin, bunyi gesekan antar padi, burung- burung hingga aliran air, itulah yang membuat saya sangat menyukai sawah. Terlebih suasana sawah magelang sangat berbeda dengan sawah - sawah yang pernah saya datangi di luar magelang, sama - sama sawah, namun atmosfir yang disuguhkan sangat berbeda. Itulah yang membuat saya sangat cinta dengan sawah magelang, dan sangat tidak setuju dengan quotes yang bilang tanah jawa, tanah yang padat. Masih banyak hamparan sawah didalam pulau jawa ini, tempat kita bisa sedikit menikmati kesendirian, merenungkan apa - apa saja yang mengganjal di hati dan pikiran, sehingga demo - demo anarkisme dapat diminimalisir. Tempat kita bisa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada hambanya lewat pandangan didepan kita yang disuguhkan-Nya. Pemandangan serta manfaat alam membuat decak kagum, pemandangan petani yang memberikan kita pelajaran, kalau pekerjaan kita 100 kali lebih menyenangakan dibandingkan kerja petani, dan pemandangan yang benar - benar merefleksikan ketenangan.

Sawah...Hamparan permadani hijau, yang memang semakin hari semakin tersisih, seakan melengkapi eloknya magelang, kota yang asri namun senantiasa bersolek untuk perubahan yang lebih baik. Perubahan yang semoga tidak mengorbankan sawahku yang multifungsi, sebagai kedok dari sebuah perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar