Hari pertama Ramadhan 2012, ternyata masih sama seperti 6 Ramadhan yang lalu. Bangun saur mepet waktu Imsyak tiba, abis itu beranjak ke Radio buat siaran pagi, that's it. Awalnya ngga nyangka sama apa udah kujalani 6 tahun ini, sampai waktu siaran pagi tadi ada yang sms bilang "Pagi bal, makasih ya udah nemenin aku tiap pagi di ramadhan 4 taun ini, berasa makin enak aja ngelewatin pagi, abis subuhan dengerin UTM chaioo" Das.. 1 sms yang membuatku langsung flashback ke 6 tahun yang lalu.
Emang bener, aku mulai masuk UTM Radio, radio tempatku belajar banyak hal sekitar Agustus 2006, setaun kemudian aku lulus SMA, dan Ramadhan datang menjadi ramadhan pertamaku siaran pagi disana, yang Alhamdulilah masih ku nikmati sampai sekarang.
Masih dalam rangka flashback, aku ingat - ingat lagi perjuanganku belajar disini. Belajar bersama dengan teman - teman sejawat gimana siaran yang baik, akhirnya sedikit demi sedikit bisa. Then, ketika yang lain udah stuck cuman belajar siaran doang, aku mulai melirik ruang produksi. Iseng ngeliatin mas are, seniorku dulu, mixing program paket acara ku jalani, dan prakteknya ketika siaran dan ruang produksi kosong, aku beranikan diri buat ngutik - ngutik software Cool Edit Pro, and Finally I can use it !!!
Berikutnya masih terus belajar secara otodidak si bos mencium gelagatku udah bisa mixing. Akupun diplot buat paroan mixing paket acara program. Seniorku yang notabene guru mixingku secara ngga langsung, udah stuck cuman mixing paket acara gituan, aku naik kelas. Aku coba buat mixing sebuah iklan, gimana menjiwai sebuah peran dalam dialog iklan, gimana jadi narator, sampai gimana memilih background music yang pas buat sebuah produk. The story goes on, and I can handle it.
Lagiii, kualitas siaranku yang kata sibos bisa dijadiin panutan, membuatku menjadi mentor buat junior2. Inget banget waktu itu ada Ocha, Dista, Mamet, Lea, Rilly, Bio, Mozza, Viska, Fella, Imel, Mikha sampe yang rada lebih tua dari aku Didon, Rheno, Nara, Dinta, Jesica, Inka, Risa, Karindra. Pelan - pelan ngajarin mereka gimana nulis script, sampe gimana mixing ku jalani. Lewat fase inipula sebenarnya feedback ke aku banyak banget, salah satunya aku jadi tau karakter orang. Terlebih karakter orang yang money oriented dan yang tidak.
Lanjutt, bisa Produksi dan Program, aku pengen naik kelas lagi. Aku belajar menjadi seorang Music Director, ini otodidak lagi. Aku coba menguping radio2 kelas wahid di Surabaya, yang katanya jadi wilayah yang punya banyak radio the best. Habis menguping lewat tatanan lagunya, kucoba aplikasikan di radioku dan banyak sambutan positif, padahal intinya adalah Ritme kawan, menyamakan ritme dengan target audience program radio pada acara itu. Lancarr sampai sekarang.
Tidak kalah membanggakan -versiku sendiri- adalah ketika bosku hamil dan cuti. Akulah yang memberanikan diri menghandle banyak program dan Radio yang mulai terbengkalai, karena ausnya pengawasan beliau. Mulailah aku mensetting acara drama radio mingguan, dari pembuat naskah, pengcastingan tokoh, menyutradarai, sampai memixing. Lancar sampai 6 bulanan, sesuai prediksiku. Semenjak saat itu mulailah aku mulai memprogram beberapa pernik di setiap segmen acara dalam 20 jam mengudaranya radioku.
See... dari ceritaku, terkuak banyak kisah menyenangkan bareng UTM Radio, yang memang memberiku banyak keleluasaan buat berkreasi. Tidak salah kalau bos dahulu pernah berkata, aku hanya belajar di tempat ini. bukanlah bekerja.
Benar kawan, benar.. Aku banyak belajar di tempat ini, mulai belajar apa itu kedisiplinan, belajar lebih memanusiakan manusia, belajar bahwa manusia adalah manusia bukan robot yang tentunya memiliki banyak keterbatasan. Belajar legowo menghadapi perpisahan -baca: resign- bahwa setiap manusia berhak buat menentukan perubahan dirinya. Karyawan yang reisgn dan membelot ke radio tetangga, tidak layak dibenci, tapi lebih harus disemangati di tempat baru, agar terus memberikan performa brilian, dari penerapan ilmu yang sudah didapat, dari tempat lama, dari ilmu sang bos sendiri. Karena fakta mencatat, jebolan penyiar UTM Radio, pasti diterima di radio manapun, namun jebolan Radio manapun, belum tentu diterima di UTM Radio.
Belajar menyelami sisi positif dari sebuah tindakan kesemena - menaan, itulah main point yang kudapat selama 6 tahun lebih ini. Satu hal lagi kawan, aku merasa beruntung juga diberikan banyak sekali kewajiban disini. Karena mendidikku menjadi pekerja keras, ditengah keterbatasan. Semakin memperkuat keyakinanku dahulu tentang sebuah kata, Kerja Ikhlas ladang Ibadah.
Inilah sedikit kejutan pertama Ramadhan tahun ini. Kejutan lainnya nanti kuceritakan.
Jumat, 20 Juli 2012
Kamis, 19 Juli 2012
Lima Kata Untuk Chabooku
4 jam yang lalu, masih
mencoba tegar, menahan air mata agar tak jatuh didepannya, yang sudah
meraung - raung sambil mencengkeram tanganku kuat - kuat meminta
pulang.
4 jam yang lalu, masih merasakan gemuruh suasana hati yang menyiratkan antara ikhlas ngga ikhlas, tega ngga tega, melepas bidadari kecilku untuk mulai belajar mandiri. Namun apa daya, 4 jam pasca kejadian -ending dari liburan- tadi, air mata sudah tak terbendung.
Hari ini, aku dan teman - teman pergi ke Gua Pindul Wonosari Jogja, Cave Tubing bareng - bareng disana. Acara yang sangat menyenangkan sekali, yang ditutup dengan tragedi memilukan, yang membuatku sedih bukan kepalang.
Ya, aku sekarang lagi menangis, setelah sekian lama tak punya waktu untuk hal satu itu. Aku menangisi perjuangan seorang anak kecil. Anak kecil 5 tahun yang keluarga kami paksa untuk mandiri sebelum waktunya.
Namanya Restu Dewiyanti, namun sering kupanggil Chabo, kependekan dari nama gahul Restu Chabolita. Gadis 5 tahun yang sangat periang, yang akhir - akhir ini jarang menangis. Kalaupun dia menangis, gampang ku kendalikan lagi, namun tadi, tepat jam 18.00 lebih sedikit, aku seperti orang ngga makan 3 tahun, lemas tanpa daya melihatnya menangis. Pemandangan yang memilukan kalau kamu melihatku sore tadi kawan.
Chabo adalah anak gadis yang luar biasa. Umur 1,5 tahun, titel anak yatim sudah dia sandang. Tipical selalu baik hati kepada teman sebayanya, walau kadang dibalas sebaliknya oleh teman - temannya, itu adalah ciri khas dari chabo. Pernah suatu hari, aku membelikannya 2 botol susu coklat kesukaannya, ketika dia meminumnya sebotol, datanglah teman sepermainannya. Diberikanlah sebotol lainnya untuk diminum, kemudian mereka bermain. Konflikpun muncul, ketika chabo mau meminjam penggorengan mainan yang sedang dipakai, entah karena emang sifat temen chabo yang temperamen, dilemparkan itu penggorengan mainan ke muka chabo, berikut botol susu yang sudah kosong, pemberian chabo. Chabo hanya terdiam dan melanjutkan permainannya dengan pasrah tatkala temannya tadi melenggang pergi dengan ekspresi sebal. Itu baru sebagian kecil dari sifat chabo yang aku bangga, yang lain masih banyak. Aku ngga mampu cerita, karena yang ada air mata makin deras, ketika mengingat bidadari kecilku.
5 Tahun kawan, 5 tahun !!! kamu bisa apa diumur segitu ??? Bisa pisah dari orang tua, hidup jauh dari keluarga untuk belajar demi masa depan..?? Aku yakin kamu belum bisa apa - apa, tapi Chabooo ?? Dia sudah memulainya kawan, sejak senin kemarin.
Ya ampun, aku ngga kuat nahan air mataku jatuh lagi...... Dia yang selalu menyambutku di depan rumah sambil berkata "mamaaassss......." Dia yang selalu kuceritakan dongeng ipin upin dengan cerita kurubah - rubah. Dia yang selalu minta kumandikan, kusuapin kala makan ketika aku terlihat dirumah, sekarang berjuang seorang diri tanpa keluarga kami. Menuntut Ilmu demi bekal masa depan, di Pondok Pesantren.
Anak 5 tahun dipondokin..?? Ngaco... !!! Gila !!! itu mungkin sebagian pandangan tentang keputusan yang keluarga kami ambil ketika menyantrenkan chabo. Ini tidak gila !!!!ini konsep hidup yang sudah kita buat pasca Ayah kami meninggal dunia dulu. Sepeninggal beliau, aku yakin tidak ada sosok figur yang ditakuti di keluarga kami. Tiada yang mencarikan nafkah, sehingga aku dan ibu yang berjuang sendiri mengais rupiah demi rupiah, untuk membesarkan mereka. Konsekuensi yang mengikuti kami adalah, tak adanya waktu untuk membimbing mereka dijalan agama, salah satu penopang hidup mereka, itulah mengapa menyatrikan adik - adik kami, menjadi jalan satu satunya agar mereka tetap dapat tumbuh besar, dengan pendidikan dunia dan akhirat.
Melihatnya menangis tatkala aku ingin pulang, semakin memberatkan diri untuk iklhas, namun itu adalah hal terpenting yang harus kulakukan sekarang. Aku harus mantap seperti ketika melepas Feri dan Firman, adik kandungku yang nyantri juga dulu. Biar bagaimanapun, meski terlihat berat, namun ini adalah yang terbaik buat masa depan chabo. Biarlah aku yang berjuang fokus mencarikan biaya untuknya.
Semangat Chabooo.. kamu pasti bisa !!!! itu mungkin 5 kata penyemangat untuk chabooo, gadis 5 tahun yang sudah mulai berjuang mandiri, belajar dan mengaji di Pondok Pesantren Al Husein Salam Magelang, dan untukku tentunya, yang masih terisak sekarang.
4 jam yang lalu, masih merasakan gemuruh suasana hati yang menyiratkan antara ikhlas ngga ikhlas, tega ngga tega, melepas bidadari kecilku untuk mulai belajar mandiri. Namun apa daya, 4 jam pasca kejadian -ending dari liburan- tadi, air mata sudah tak terbendung.
Hari ini, aku dan teman - teman pergi ke Gua Pindul Wonosari Jogja, Cave Tubing bareng - bareng disana. Acara yang sangat menyenangkan sekali, yang ditutup dengan tragedi memilukan, yang membuatku sedih bukan kepalang.
Ya, aku sekarang lagi menangis, setelah sekian lama tak punya waktu untuk hal satu itu. Aku menangisi perjuangan seorang anak kecil. Anak kecil 5 tahun yang keluarga kami paksa untuk mandiri sebelum waktunya.
Namanya Restu Dewiyanti, namun sering kupanggil Chabo, kependekan dari nama gahul Restu Chabolita. Gadis 5 tahun yang sangat periang, yang akhir - akhir ini jarang menangis. Kalaupun dia menangis, gampang ku kendalikan lagi, namun tadi, tepat jam 18.00 lebih sedikit, aku seperti orang ngga makan 3 tahun, lemas tanpa daya melihatnya menangis. Pemandangan yang memilukan kalau kamu melihatku sore tadi kawan.
Chabo adalah anak gadis yang luar biasa. Umur 1,5 tahun, titel anak yatim sudah dia sandang. Tipical selalu baik hati kepada teman sebayanya, walau kadang dibalas sebaliknya oleh teman - temannya, itu adalah ciri khas dari chabo. Pernah suatu hari, aku membelikannya 2 botol susu coklat kesukaannya, ketika dia meminumnya sebotol, datanglah teman sepermainannya. Diberikanlah sebotol lainnya untuk diminum, kemudian mereka bermain. Konflikpun muncul, ketika chabo mau meminjam penggorengan mainan yang sedang dipakai, entah karena emang sifat temen chabo yang temperamen, dilemparkan itu penggorengan mainan ke muka chabo, berikut botol susu yang sudah kosong, pemberian chabo. Chabo hanya terdiam dan melanjutkan permainannya dengan pasrah tatkala temannya tadi melenggang pergi dengan ekspresi sebal. Itu baru sebagian kecil dari sifat chabo yang aku bangga, yang lain masih banyak. Aku ngga mampu cerita, karena yang ada air mata makin deras, ketika mengingat bidadari kecilku.
5 Tahun kawan, 5 tahun !!! kamu bisa apa diumur segitu ??? Bisa pisah dari orang tua, hidup jauh dari keluarga untuk belajar demi masa depan..?? Aku yakin kamu belum bisa apa - apa, tapi Chabooo ?? Dia sudah memulainya kawan, sejak senin kemarin.
Ya ampun, aku ngga kuat nahan air mataku jatuh lagi...... Dia yang selalu menyambutku di depan rumah sambil berkata "mamaaassss......." Dia yang selalu kuceritakan dongeng ipin upin dengan cerita kurubah - rubah. Dia yang selalu minta kumandikan, kusuapin kala makan ketika aku terlihat dirumah, sekarang berjuang seorang diri tanpa keluarga kami. Menuntut Ilmu demi bekal masa depan, di Pondok Pesantren.
Anak 5 tahun dipondokin..?? Ngaco... !!! Gila !!! itu mungkin sebagian pandangan tentang keputusan yang keluarga kami ambil ketika menyantrenkan chabo. Ini tidak gila !!!!ini konsep hidup yang sudah kita buat pasca Ayah kami meninggal dunia dulu. Sepeninggal beliau, aku yakin tidak ada sosok figur yang ditakuti di keluarga kami. Tiada yang mencarikan nafkah, sehingga aku dan ibu yang berjuang sendiri mengais rupiah demi rupiah, untuk membesarkan mereka. Konsekuensi yang mengikuti kami adalah, tak adanya waktu untuk membimbing mereka dijalan agama, salah satu penopang hidup mereka, itulah mengapa menyatrikan adik - adik kami, menjadi jalan satu satunya agar mereka tetap dapat tumbuh besar, dengan pendidikan dunia dan akhirat.
Melihatnya menangis tatkala aku ingin pulang, semakin memberatkan diri untuk iklhas, namun itu adalah hal terpenting yang harus kulakukan sekarang. Aku harus mantap seperti ketika melepas Feri dan Firman, adik kandungku yang nyantri juga dulu. Biar bagaimanapun, meski terlihat berat, namun ini adalah yang terbaik buat masa depan chabo. Biarlah aku yang berjuang fokus mencarikan biaya untuknya.
Semangat Chabooo.. kamu pasti bisa !!!! itu mungkin 5 kata penyemangat untuk chabooo, gadis 5 tahun yang sudah mulai berjuang mandiri, belajar dan mengaji di Pondok Pesantren Al Husein Salam Magelang, dan untukku tentunya, yang masih terisak sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)