Kamis, 19 Juli 2012

Lima Kata Untuk Chabooku

4 jam yang lalu, masih mencoba tegar, menahan air mata agar tak jatuh didepannya, yang sudah meraung - raung sambil mencengkeram tanganku kuat - kuat meminta pulang.

4 jam yang lalu, masih merasakan gemuruh suasana hati yang menyiratkan antara ikhlas ngga ikhlas, tega ngga tega, melepas bidadari kecilku untuk mulai belajar mandiri. Namun apa daya, 4 jam pasca kejadian -ending dari liburan- tadi, air mata sudah tak terbendung.

Hari ini, aku dan teman - teman pergi ke Gua Pindul Wonosari Jogja, Cave Tubing bareng - bareng disana. Acara yang sangat menyenangkan sekali, yang ditutup dengan tragedi memilukan, yang membuatku sedih bukan kepalang.

Ya, aku sekarang lagi menangis, setelah sekian lama tak punya waktu untuk hal satu itu. Aku menangisi perjuangan seorang anak kecil. Anak kecil 5 tahun yang keluarga kami paksa untuk mandiri sebelum waktunya.

Namanya Restu Dewiyanti, namun sering kupanggil Chabo, kependekan dari nama gahul Restu Chabolita. Gadis 5 tahun yang sangat periang, yang akhir - akhir ini jarang menangis. Kalaupun dia menangis, gampang ku kendalikan lagi, namun tadi, tepat jam 18.00 lebih sedikit, aku seperti orang ngga makan 3 tahun, lemas tanpa daya melihatnya menangis. Pemandangan yang memilukan kalau kamu melihatku sore tadi kawan.

Chabo adalah anak gadis yang luar biasa. Umur 1,5 tahun, titel anak yatim sudah dia sandang. Tipical selalu baik hati kepada teman sebayanya, walau kadang dibalas sebaliknya oleh teman - temannya, itu adalah ciri khas dari chabo. Pernah suatu hari, aku membelikannya 2 botol susu coklat kesukaannya, ketika dia meminumnya sebotol, datanglah teman sepermainannya. Diberikanlah sebotol lainnya untuk diminum, kemudian mereka bermain. Konflikpun muncul, ketika chabo mau meminjam penggorengan mainan yang sedang dipakai, entah karena emang sifat temen chabo yang temperamen, dilemparkan itu penggorengan mainan ke muka chabo, berikut botol susu yang sudah kosong, pemberian chabo. Chabo hanya terdiam dan melanjutkan permainannya dengan pasrah tatkala temannya tadi melenggang pergi dengan ekspresi sebal. Itu baru sebagian kecil dari sifat chabo yang aku bangga, yang lain masih banyak. Aku ngga mampu cerita, karena yang ada air mata makin deras, ketika mengingat bidadari kecilku.

5 Tahun kawan, 5 tahun !!! kamu bisa apa diumur segitu ??? Bisa pisah dari orang tua, hidup jauh dari keluarga untuk belajar demi masa depan..?? Aku yakin kamu belum bisa apa - apa, tapi Chabooo ?? Dia sudah memulainya kawan, sejak senin kemarin.

Ya ampun, aku ngga kuat nahan air mataku jatuh lagi...... Dia yang selalu menyambutku di depan rumah sambil berkata "mamaaassss......." Dia yang selalu kuceritakan dongeng ipin upin dengan cerita kurubah - rubah. Dia yang selalu minta kumandikan, kusuapin kala makan ketika aku terlihat dirumah, sekarang berjuang seorang diri tanpa keluarga kami. Menuntut Ilmu demi bekal masa depan, di Pondok Pesantren.

Anak 5 tahun dipondokin..?? Ngaco... !!! Gila !!! itu mungkin sebagian pandangan tentang keputusan yang keluarga kami ambil ketika menyantrenkan chabo. Ini tidak gila !!!!ini konsep hidup yang sudah kita buat pasca Ayah kami meninggal dunia dulu. Sepeninggal beliau, aku yakin tidak ada sosok figur yang ditakuti di keluarga kami. Tiada yang mencarikan nafkah, sehingga aku dan ibu yang berjuang sendiri mengais rupiah demi rupiah, untuk membesarkan mereka. Konsekuensi yang mengikuti kami adalah, tak adanya waktu untuk membimbing mereka dijalan agama, salah satu penopang hidup mereka, itulah mengapa menyatrikan adik - adik kami, menjadi jalan satu satunya agar mereka tetap dapat tumbuh besar, dengan pendidikan dunia dan akhirat.

Melihatnya menangis tatkala aku ingin pulang, semakin memberatkan diri untuk iklhas, namun itu adalah hal terpenting yang harus kulakukan sekarang. Aku harus mantap seperti ketika melepas Feri dan Firman, adik kandungku yang nyantri juga dulu. Biar bagaimanapun, meski terlihat berat, namun ini adalah yang terbaik buat masa depan chabo. Biarlah aku yang berjuang fokus mencarikan biaya untuknya.

Semangat Chabooo.. kamu pasti bisa !!!! itu mungkin 5 kata penyemangat untuk chabooo, gadis 5 tahun yang sudah mulai berjuang mandiri, belajar dan mengaji di Pondok Pesantren Al Husein Salam Magelang, dan untukku tentunya, yang masih terisak sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar