Beberapa orang punya prinsip hidup yang sangat keras. Serupa teroris (maaf....), mereka meyakini kebenaran dengan sangat dan begitu pasti bahwa semua orang harus punya keyakinan yang sama. Serupa-pun tidak boleh. Harus SAMa titik !!. Dunia ini harus seragam dengan.. dengan keyakinan yang ITU. Karenanya, dengan kesungguhan yang tekun, kadang mereka mengibarkan bendera perang, menyeret orang lain pada kebenaran yang dianutnya.
Aliran "garis keras" bisa teraplikasi dalam aneka bentuk. Tempo hari seorang teman dengan setengah bercanda setengah naksir beneran dengan salah satu dosen muda di kampus. Dia selalu mengatakan alamak gantengnya.. alamak pinternya dan alamaaakkk yang lain.Tak seorangpun boleh berkata tidak baik mengenai pujaan hatinya tersebut. Wajahnya sontak berubah ketika ada yang bilang "Ah.. pak malik biasa aja, item elik.."
Well, dalam satu dua hal, bisa jadi kita menggaris keraskan sesuatu. Pertengkaran dengan pacar, misalnya. Bisa jadi persoalan yang sebenarnya sederhana saja. Namun kita dan si dia keukeh sumeukeuh memengang pendapatnya sebagai hal yang benar. Jika kita sudah merasa benar, dan paling benar dalam hal ini, maka kebenaran orang lain menjadi tiada.
Sebuah pertengkaran kecil baru saja terjadi antara sepasang manusia yang baru saja dimabuk asmara. Mimin, sebut saja begitu namanya, dengan nada mesra ke sang kekasih yang tengah dimabukinya itu berkata dengan mesra agar lebih berhati - hati, bila berdekatan dengan lawan jenis. Api neraka itu hukumnya, bagi 2 orang non muhrim yang saling bersentuhan. Kekasih mimin, sebut saja maman, hanya menanggapi santai bahwa non muhrim yang bersentuhan tidak apa - apa, karena hanya bersentuhan biasa, tidak disengaja, tidak ada unsur syahwat di dalamnya, dan memang tidak apa - apa, karena memang tidak pernah berusaha untuk bersentuh - sentuhan.Sontak mimin yang mungkin ilmu yang dianutnya sudah tinggi, mulai meninggi. Mulailah dia mengait ngaitkan dengan dalil - dalil yang maman belum yakin kebenarannya. Mimin melakukan ini dengan alasan cinta yang benar - benar sesuai dengan kaidah keagamaannya. Dan diakhiri dengan saling diam mendiamkan.
Drama selalu akan menjadi akhir dari sebuah pertentangan garis keras. Apa yang didapat ? Tidak ada. Apa yang kemudian kemudian terjadi pada pasangan "pemabuk cinta" itu ? Baiklah, pastinya. Derai airmata, itulah penutup konfrontasi mereka.
Alam Raya ini nyatanya tak sekeras itu kok. Mengapa ? Karena yang berjalan adalah konsekuensi logis. Jika A terjadi, maka B bergerak, dan C mengikuti. Semua berjalan seolah mengayun, manis, harmonis. Bahkan badai paling dahsyat pun lahir dari rangkaian yang tiba - tiba. Ada titik air, desau angin, udara yang memanas (atau mendingin), gerak pohon, dan banyak tanda yang lain.
Saya juga percaya bahwa Nabi Muhammad SAW , junjungan kami semua, tidak mengajarkan agama kami, tanpa memakai jalan damai. Hati memang memegang peranan penting dalam meyakini sesuatu. Semua orang sudah pasti memiliki hati nurani. Jadi mengapa perlu ada garis keras ? Agar dunia lebih berwarna. Agar orang lebih mengerti, menikmati, dan mensyukuri nilainya, pendapatnya, dan orang lain. Namun apabila menyadarkan seseorang tanpa perlu memakai urat dan garis keras, mengapa kita masih memakainya. Karena hanya memunculkan kebencian, dan perpecahan tentunya. Semua orang punya hati, biarkan mereka menapaki hidup dengan tuntunan hatinya.
Tidak ada agama yang paling baik, semua agama mengajarkan hal yang sama, kebaikan. Walau berbeda - beda tata cara, namun dalam pandangan saya, semuanya akan bermuara pada 1 hal yaitu surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar