Sabtu, 18 Desember 2010

The Special Gift

Sempat terpikir kalo saya ini sebenarnya adalah babi dalam kandang yang berisi Mutiara,pemikiran terbalik dari yang sering terbersit dalam benak diri selama ini.Sangat disayangkan, diri ini tidak pernah tersadar kalau terlalu enjoy dengan comfort zone-nya.Zona yang selama ini selalu menjadi Prioritas. Prioritas yang selalu dianggap sebagai kewajibannya kewajiban. Prioritas yang sebenarnya merenggut masa depannya sedikit demi sedikit, namun selalu dijunjung tinggi dan tidak mau diganggu gugat. Prioritas yang mengubah persepsi kebaikan dari seorang malaikat menjadi awalan kehancuran. Prioritas yang mengabsurdkan diri sendiri yang sebenarnya seperti babi menjadi seolah se-eksotis Mutiara.

Well, mungkin pemikiran yang terlalu cupetlah yang menjadi sumbu perkara selama ini. Masalah dangkal yang terlalu amat sangat dipikirkan terlalu kejauhan. Padahal kalau diajalani dengan prisip "go with the flow" pun tidak mungkin berantakan sebenarnya. Pemikiran ini pula-lah yang menyebabkan penyakit hati sering sekali menerpa, salah satunya yang menganggap mutiara sebagai babi dan sebaliknya. Ah namun manusia banyakan yang OT ( sisi lain dari diri ini tiba - tiba berontak ) sangat jarang orang - orang seusia saya , bahkan yang lebih dewasa sekalipun yang mungkin bisa beradaptasi dengan kondisi seperti diri ini. Kondisi dimana segala sesuatunya bisa dibilang sedang "Liar - Liar-nya" namun harus bisa mengekang dan mengendalikan atas nama "BAKTI" .

See ?? Kalau sudah menyangkut masalah bakti, bisa dibilang segala sesuatunya menjadi it's a must !!!, selalu mencoba mentaati apa yang sudah dititahkan sebagai wujud tanda penghormatan kepada sang pemberi titah, itulah sang Prioritas , yang selama ini selalu dicamkan baik - baik di diri sang babi, yang selama ini menganggap dirinya sebagai seonggok mutiara. Sebenarnya tidak ada penyesalan dalam relung hatinya, hanya saja orang - orang disekitarnya saja yang akhir - akhir ini membuatnya sadar kalau bakti-pun sebenarnya juga tidak se-strenght yang selama ini dipikirkannya. Sang pemberi titah ( sebut saja sang Raja ) yang sedang berada dalam peraduan nyamannya, mungkin sekarang sedang tidur - tidur ayam sambil melihat ke sang babi yang sedang menjalankan amanahnya. Sang Raja pun sudah mempunyai penilaian tersendiri terhadap sang babi, sejak hari pertama memberi titah hingga detik ini bergulir, bukti nyata dari baktinya selalu terekam. Hal ini membuat banyak dari mutiara - mutiara disekitar babi berkata kalau Sang Raja dipastikan akan sangat puas melihat hasil bakti dari sang babi. Keadaan ini pula yang membuat Sang Raja menitahkan sang mutiara untuk membujuk sang babi agar menyudahi aksi baktinya dan segera memikirkan Dharma Baktinya untuk dirinya sendiri. Satu pesan sang Raja untuk sang babi kurus adalah tetap setia mendengarkan acara wayang dan harus mengoleksi kisah - kisah pewayangan, karena wayanglah sarana perekat antara babi dan Sang Raja.

Nb : Kado Ulang Tahun untuk Almarhum bapak tercinta yang terlalu dini 15 hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar